Konon Rawa pening
dimulai dari sebuah mitos
yang turun-temurun
diwariskan menjadi
sebuah kearifan lokal.
Awal mula Rawa Pening dimulai dari Legenda Baru
Klinting, yang dikisahkan
sebagai anak kecil yang
sakti, namun memiliki
wajah yang buruk rupa
sehingga menjadi bahan ejekan anak sebayanya.
Hanya seorang Janda yang
mau menerima keberadaan
baru Klinting. Suatu saat
Baru Klinting berpesan
kepada Janda tersebut agar naik lesung
“penumbuk padi” disaat
mendengar kentongan.
Kemudian Baru Klinting
menjuju pelataran dan
mengadakan sayembara, siapa yang bisa mencabut
lidi yang ditancapkannya. Tak satupun anak-anak
yang bisa mencabut lidi
yang ditancapkan Baru
Klinting. Orang dewasa tak
mau kalah juga, lalu satu
persatu mencoba mencabut lidi tersebut,
namun semuanya gagal.
Akhirnya Baru Klinting
yang mencabut lidi
tersebut lalu setelah
tercabut keluarlah semburan air yang
semakin membesar. Usai
mencabut lidi lalu Baru
Klinting berlari sambil
membunyikan kentongan
dan akhirnya semua warga tenggelam dan
hanya Janda tersebut yang
selamat dengan naik
lesung. Genangan airpun
meluas dan menjadi sebuah
danau yang jernih airnya yang disebut Rawa Pening. Saat ini Rawa Pening
menjadi penopang
beberapa aspek
kehidupan dengan
kelimpahan sumber daya
alamnya. Sektor wisata, pertanian, pengelolaan
energi hingga perikanan
sepenuhnya tergantung
kepada danau seluas
2.670ha. Dikelilingi
perbukitan dan berlatar gunung seolah sebagai
tandon air yang tak
pernah kering. Sawah
disekitar danau menjadi
bukti, betapa berjasanya
Rawa Pening dalam mendukung sektor wisata.
Karamba apung dan
banyaknya nelayan yang
hilir mudik di sisi-sisi danau
menunjukan adanya
sumber kehidupan dikedalaman air, Di outlet
Rawa Pening sudah
dihadang sebuah
bendungan yang
mengubah energi potensial
air menjadi listrik dengan turbin-turbin
generatornya. Danau dengan sejarah
yang panjang, hingga ada
bukti nyata kejayaan masa
lalu. Disisi utara danau,
hamparan besi berjajar
kokoh terpancang. Rel kereta api yang
menghubungkan Stasiun
Ambarawa dengan Stasiun
Tuntang membingkai sisi
utara danau. Jikan anda
beruntung maka bisa disaksikan Salah satu
lokomotif dengan kode B
2503 buatan
Maschinenfabriek Esslingen
melintas dengan kepulan
asap hitamnya. Lokomotif langaka hanya tinggal 3
yang masih tersisa di dunia
yang saat ini selain di Swiss
dan India. Kurang lengkap rasanya
jika tidak melirik flora dan
fauna yang menghuni
Rawa Pening. Salah satu
flora yang menjadi buah
simalakama bagai perairan Rawa Pening adalah Eceng
Gondok (Eichornia
crassipes). Eceng gondong
dengan
perkembangbiakan
vegetatif menjadi ledakan disaat menutupi sebagian
besar permukaan danau.
VOlume air dapat dengan
mudah disedot
kepermukaan lewat laju
transpirasi yang 7kali lebih cepat oleh Eceng Gondok,
selain itu penetrasi cahaya
ke dalam danau juga
terhambat. Disisi lain Eceng
Gondok dimanfaatkan
sebagai kerajinan, pupuk, dan tempat naungan ikan. Untuk keseimbangan
ekositem rawa, maka Flora
lain seperti Salvinia
(Salvinia natans),
Kangkung (Ipomoea
reptans), Azola, Hidrilia dan aneka tanaman air menjadi
penghuni tetap rawa.
Berbagai fauna, seperti
Biawak (Varanus salvator)
, burung kuntul (Bubulus
coromandus), Bulus (Cylemis amboinensis), dan
beraneka macam ikan air
tawar. Mata mungkin akan
terpana dengan hilir mudik
burung kuntul yang tak
canggung melintas diatas perahu nelayan. Andaikata
ditelusuri lebih dalam lagi
maka beberapa spesies
eksotis masih bisa ditemui
di danau indah ini. Realitanya 19 anak sungai
menjadi masukan air bagi
Rawa Pening, dan hanya 1
sungai yang menjadi jalan
keluar. Masuknya air yang
menuju Rawa Pening bukanlah air sungai yang
bersih, namun membawa
material-material yang ikut
larut dan terbawa arus
sungai. Sungai-sungai yang
menjadi masukan air Rawa Pening dimanfaatkan oleh
masarakat yang tinggal
disekitar sungai. Aktivitas
rumah tangga hingga
pertanian telah
berkontribusi menyumbangkan material
terlarut dalam perairan
sungai yang selanjutnya
terbawa arus menuju
Rawa Pening. Limbah
rumah tangga, seperti deterjen, kotoran, hingga
sampah menjadi material
yang ditemukan sepanjang
sungai. Dari aktivitas
pertanian juga
memberikan sumbangsih terhadap bahan-bahan
pencemar, seperti
pestisida, limbah pertanian
dan sisa pemupukan yang
berlebihan. Kini semua tergantung
tangan manusia mau
dibawa kemana aliran
kelestarian Rawa Pening.
Jika tindakan manusia
layaknya mitos Baru Klinting yang tidak
diterima penduduk dengan
ramah dan selalu menyakiti
alam dengan segala
keberadaanya, niscaya lidi
bencana akan tercabut dengan sendirinya.
Akankah lidi konservasi
ikut akan terus tertanam
demi generasi mendatang,
atau ramai-ramai dicabut
dengan alasan perut dan ekonomi,Ditangan kita lidi
tersebut tertancap, niscaya
dengan keramahan kita
buat generasi mendatang
agar tetap bisa menikmati
pesona Baru Klinting.
No comments:
Post a Comment